
Indonesia punya ciri khas yang berbeda dgn bangsa-bangsa lain di dunia. Indonesia memiliki keberagaman suku, bahasa, budaya dan agama.
Sepak bola gaya Samba tidak cocok bagi Indonesia karena di Brasil, mereka hanya menggunakan satu bahasa saja di negara seluas 8 juta kilometer persegi itu. Sedang di Indonesia, kita menggunakan puluhan bahasa. Gaya Samba juga tidak cocok untuk diterapkan dalam permainan sepak bola antar pulau.
Gaya Total Football juga tidak cocok dengan gaya hidup orang Indonesia. Ciri kekeluargaan masyarakat Indonesia bisa menyebabkan konsep Total Football menjadi tidak produktif jika dipaksakan untuk diterapkan.
Gaya grendel Catenaccio ala pemerintahan Fascis lebih tidak cocok bagi bangsa Indonesia yang memiliki toleransi dan tepo seliro dalam kehidupannya.
Gaya permainan Kick & Rush juga tidak cocok, karena mayoritas bangsa Indonesia tidak menyukai orang-orang yang hobinya 'Lempar batu sembunyi tangan'.
Gaya Diesel-nya tim Panzer tidak juga cocok. Postur tubuh orang Indonesia yang relatif kecil, justru akan semakin lama semakin menurun staminanya.
Tim nasional sepak bola Indonesia harus dapat meramu sendiri gaya permainannya dengan memadukan keunggulan dan kearifan lokal budaya kita sendiri.
Barisan Depan:
Barisan penyerang cocok ditempati oleh suku Batak, Bugis dan Papua.
Suku Batak sebagai representasi wilayah Indonesia bagian barat, cocok menempati posisi penyerang tengah. Sifat yang tegas, dengan ungkapan 'Batak Tembak Langsung' akan menjadi momok yang menakutkan setiap penjaga gawang lawan. Tendangan kaki yang keras disertai teriakan yang kencang memekak telinga akan menjadi petaka bagi benteng pertahanan lawan.
Suku Bugis sebagai representasi wilayah Indonesia bagian tengah, cocok mengisi posisi sayap kiri. Kemampuan navigasi yang terkenal hingga seantero dunia, dapat memberikan tekanan berat pada sisi kanan pertahanan lawan sekaligus mengendalikan alur permainan di sisi pertahanan lawan. Umpan-umpan cerdas atas dasar perhitungan navigasi yang akurat dari sisi kiri akan menjadi assist matang kepada penyerang tengah yang siap menerkam setiap umpan.
Suku Papua sebagai representasi wilayah Indonesia bagian timur, cocok mengambil peran di posisi penyerang sayap kanan. Seni tari Papua yang dinamis serta kemampuan jelajah wilayah yang masih sangat perawan menjadi bekal utama dalam mendobrak benteng pertahanan lawan di sebelah kiri. Kemampuan jelajah wilayah akan sangat melelahkan setiap pemain belakang lawan yang mencoba menguntit. Potensi seni dalam mengirim umpan akan membuat gerak bola mengecoh antisipasi para pemain lawan.
Barisan Tengah:
Barisan tengah cocok diisi oleh suku Sunda, Jawa, NTT dan Dayak Kalimantan.
Kekuatan lini tengah menentukan tingkat penguasaan bola selama pertandingan berlangsung. Lini tengah ini memerlukan kemampuan untuk mengendalikan dan menguasai permainan tim lawan dengan metode campuran yang memadukan cara rasional, kejiwaan dan sedikit suasana magis.
Suku Jawa yang piawai mendalangi pentas kehidupan wayang bisa dijadikan sebagai play maker di lapangan tengah.
Suku Sunda yang tenang tetapi menghanyutkan, dapat membuai permainan sehingga pemain lawan menjadi lengah oleh buaian magis gerak gemulai Jaipong dan iringan alunan gending Sunda yang sejuk.
Suku NTT yang memiliki ketegasan akan memberikan efek enggan dan ragu bagi pemain lawan untuk berjibaku berebut bola. Ketegasan suku NTT bukan ketegasan tanpa makna melainkan justru ketegasan yang bernilai kelembutan. Bak melodi yang dikeluarkan oleh Sasando, ketegasan menjadi sangat luwes dan magis yang menghanyutkan permainan lawan.
Suku Dayak Kalimantan, dengan kebiasaan jelajah dan penguasaan wilayah yang luas serta interpretasi seni yang dinamis adalah sebuah kekuatan magis dan dahsyat yang akan menghancurkan hegemoni pemain tengah tim lawan.
Barisan Belakang
Barisan pertahanan cocok diisi oleh suku Ambon Maluku, Manado, Minangkabau dan Betawi.
Suku Ambon Maluku tentu tidak pernah kenal kompromi terhadap semua ancaman terhadap integritas wilayahnya. Karakter pembela pertahanan yang pernah diteladani oleh Kapitan Pattimura & Libero kebanggaan PSSI, Ronny Pattinasarany, tertanam kokoh dan kuat di dalam jiwa setiap pemain suku Ambon Maluku.
Suku Manado memberikan warna lain di barisan pertahanan kita. Kombinasi kecantikan manusia dan kemerduan suara alam menjadikan benteng pertahanan kita boleh dilihat tetapi pantang disentuh oleh setiap pemain lawan.
Suku Minangkabau memiliki kearifan sejarah tentang sebuah pertahanan. Bak gemulai seekor anak kerbau yang mampu mempedaya seekor Banteng besar yang ganas. Gemulai tari piring tidak memcahkan kekuatan para penyerang lawan, tetapi justru melemahkan kekuatan itu.
Suku Betawi memiliki wibawa yang tinggi dalam menjaga wilayah pertahanan Indonesia. Konsep 'Lu jual, gue beli' diperkuat kepretan tari topeng di tengah alunan gambang kromong akan membuat para pemain lawan menyerah sebelum bertanding.
Penjaga Gawang.
Penjaga gawang cocok diberikan kepada suku Bali.
Gerakan trengginas, cakap dan lincah dalam tari kecak akan membuat penyerang lawan kesulitan menemukan celah yang kosong di gawang tim Indonesia.
Adapun kearifan dan keunggulan lokal dari suku-suku lain akan menjadi penambah kekuatan Tim Nasional sepak bola Indonesia.


No comments:
Post a Comment