Thursday, December 30, 2010

Komentar-komentar Inspiratif Alfred Riedl


"Soal menang saya tidak bisa beri kepastian. Namun, kami akan mencoba memberikan penampilan terbaik. Pencapaian juara tergantung kerjasama tim nanti di lapangan. Biarkan mereka bekerjasama. Dari awal tidak ada target mencapai final. Namun, saya tentunya ingin Indonesia mencapai final. Begitu juga dengan semua masyarakat Indonesia." Usai memimpin latihan di Lapangan Timnas, Kamis (18/11).

"Kami menggelar laga uji coba untuk mengetahui kekuatan tim. Timur Leste kurang memberikan tantangan, namun Cina Taipei cukup baik. Pada babak pertama kami bisa bermain bagus, bahkan paling baik selama saya membesut timnas. Tapi, di babak kedua permainan anak-anak turun. Sejauh ini persiapan sudah 85%. Pada prinsipnya persiapan masih kurang. Hal ini disebabkan waktu pelatnas yang sangat mempet. Saya agak ragu bisa mencapai 100%." Latihan pasca uji coba vs Taiwan di Lapangan Timnas, Kamis (25/11).

"Saya sudah punya 9-10 pemain untuk Piala AFF. Masih kurang satu atau dua pemain untuk menempati posisi bek dan striker. Para pemain harus tahu duluan, maaf saya tidak bisa memberitahukan kepada Anda." Ketika dikejar soal dua calon pemain skuad inti, Minggu (28/11).

"Yang terpenting kondisi pemain sudah semakin baik. Saya bukan bicara soal teknik saja, namun juga soal kedekatan satu sama lain. Sekarang kami tinggal memberi kepercayaan kepada pemain untuk memberikan permainan terbaiknya. Saya telah berkoordinasi dengan Sutan Harhara yang memantau perkembangan Malaysia. Sejauh ini saya lihat ada celah buat kita untuk menang." Sehari sebelum pengumuman resmi skuad inti, Senin (29/11).

"Malam ini kami langsung menyiapkan latihan. Jadi, menang bukan berarti bisa tidur nyenyak. Kami akan langsung menggelar latihan. Maaf saya tidak akan memberitahukan dan memberi tanggapan mengenai permainan anak-anak. Nanti lawan bisa tahu kekuatan kami." Pasca laga melawan Malaysia di babak grup, Rabu (1/12).

"Sehabis menang besar, para pemain tidak boleh over-confidence pada pertandingan nanti. Harus tetap fokus mejalani pertandingan. Laos tim yang bagus dan kini semakin berkembang. Tak boleh meremehkan kekuatan lawan. Pada 2006 lalu, Laos pernah kalah lawan Vietnam. Namun di Sea Games 2009 mereka bisa mengimbanginya." Persiapan menjelang laga vs Laos, Kamis (2/12).

"Pertandingan hari ini tak segampang apa yang kita lihat. Pada menit awal Laos turun dengan kekuatan yang berbahaya. Buktinya, kami susah mencetak angka. Namun, berkat kesolidan pemain kami mampu memenangkan laga ini. Buat saya hasil yang terbaik adalah kami lolos ke semifinal. Besok kami akan melakukan evaluasi tim untuk melihat siapa yang cedera atau kelelahan. Kemungkinan kami akan merotasi pemain."

"Saya pikir kami punya tanggung jawab besar kepada suporter yang telah memenuhi SUGBK. Semua telah datang memerah-putihkan stadion. Karena itu, kami akan tetap menunjukan permainan hebat dan memberi kemenangan. Kami mau hibur penonton." Usai kemenangan kedua vs Laos, Sabtu (4/12).

"Kami akan berusaha memenangkan laga. Kendati dalam angka pertemuan Thailand lebih unggul, namun itu masa lalu. Sekarang, kami melenggang tanpa beban. Justru, mereka yang memiliki beban untuk memenangkan pertandingan agar bisa lolos ke babak selanjutnya. Saya yakin kami bisa menang. Kini Thailand terlihat kelelahan dan kami sedikit diuntungkan dengan hal itu." Sebelum pertemuan dengan Thailand, Senin (6/12).

"Saya terkejut anak-anak punya kekuatan di menit-menit akhir. Pemain sukses menerapkan serangan balik. Performa pemain saya bagus. Thailand sebenarnya bermain bagus dan keras. Babak kedua, mereka melakukan tekanan ke depan dan sukses mencetak gol yang luar biasa. Namun, usai tertinggal pemain Indonesia mampu bangkit dan serangan balik berhasil memenangkan Indonesia." Usai kemenangan 2-1 vs Thailand, Selasa (7/12).

"Mereka semua merupakan tim yang tangguh dan kuat. Namun, kalau kami bermain seperti pada fase penyisihan, saya rasa Indonesia mampu mencapai final dan mempunyai peluang untuk menjadi jawara pada Piala AFF kali ini." Menyambut partai semifinal, Selasa (7/12).

"Saya tak peduli dengan rekor kemenangan. Kendati Indonesia lebih banyak menang, namun kondisi sekarang berbeda. Filipina punya kekuatan baru dan bermain bagus pada babak penyisihan." Persiapan partai semifinal lawan Filipina, Jumat (10/12).

"Pemain saya bukan sirkus. Mereka bukan kuda yang bisa diatur-atur ke sana ke mari. Soalnya, hal itu sangat mengganggu fokus dan memberi tekanan kepada pemain. Siapa yang melanggar akan saya keluarkan dari tim."

"Pemain juga tidak boleh keluar hotel kecuali mengikuti jadwal timnas. Tak ada wawancara di dalam maupun di luar hotel. Itu sangat menggangu konsentrasi mereka." Soal larangan aktivitas di luar jadwal, Jumat (10/12).

"Pada leg pertama, kendati kami main di Indonesia namun itu merupakan laga tandang. Karena itu, saya menginstruksikan agar pemain menjalankan pertandingan layaknya laga tandang. Kami akan menyerang, seperti bermain di laga tandang." Persiapan babak semifinal vs Filipina, Rabu (15/12).

"Saya rasa tidak ada yang istirahat. Saat ini yang terpenting adalah menyiapkan mental pemain. Bermain dilihat ribuan penonton memberikan tekanan yang hebat. Mengantisipasi itu, kami bakal memberikan motivasi lebih kepada para pemain." Usai partai tandang vs Filipina, Jumat (17/12).

"Yang terpenting menyiapkan mental para pemain. Bermain ditonton ribuan orang memberikan tekanan yang sangat besar. Sulit menciptakan mental yang bagus dengan cara singkat. Jadi, percuma saja secara khusus melakukan latihan penalti. Kami akan lebih memotivasi para pemain." Soal kemungkinan drama adu penalti, Jumat (17/12).

"Peluang Indonesia dan Malaysia 50:50. Ketika di penyisihan grup A, Indonesia mampu menang telak 5-1. Namun sebenarnya pada pertandingan itu Indonesia serta Malaysia bermain cukup imbang. Kini mereka berbeda dan punya kekuatan baru." Persiapan laga final pertama, Minggu (19/12).

"Kami tidak peduli dengan masalah laser atau lainnya. Kami hanya mau fokus mengahadapi laga ke depan. Pasalnya, waktu yang kami punya tidak panjang. Kami akan mendorong pemain siap menghadapi pertandingan nanti." Menanggapi partai tandang di Bukit Jalil, Malaysia, Senin (27/12).

"Hari ini pasukan Merah-Putih main luar biasa. Kami hanya sedikit kurang beruntung. Namun, kami telah bekerja keras sepanjang babak."

"45 menit pertama adalah babak pertama terbaik sepanjang Piala AFF. Babak kedua, kami menunjukan karakter permainan. Meski lebih dulu ketinggalan 1-0, namun kami mampu bangkit dan mencetak dua gol balasan." Soal penampilan timnas Indonesia di leg kedua, Rabu (29/12).


Sumber: Bolanews.com; http://www.bolanews.com/liga/liga-indonesia/18803-Komentar-komentar-Ispiratif-Pelatih-Alfred-Riedl.html

Sunday, December 26, 2010

Tujuah buah rekomendasi hasil Kongres Sepakbola Nasional


1. PSSI perlu segera melakukan reformasi dan restrukturisasi atas dasar usul, saran, dan kritik serta harapan masyarakat, dan mengambil langkah-langkah konkret sesuai aturan yang berlaku untuk mencapai prestasi yang diharapkan masyarakat.

2. Perlu adanya pembangunan dan peningkatan infrastruktur olahraga khususnya sepak bola.

3. PSSI perlu meningkatkan komunikasi, koordinasi, dan sinkronisasi dengan seluruh stakeholder, terutama KONI dan Pemerintah.

4. Dilakukan pembinaan sejak dini melalui penanganan secara khusus melalui pendekatan IPTEK dengan melibatkan tim yang terdiri dari dokter, psikolog, pemandu bakat, dan pakar olahraga dan perlu segera disusun kurikulum standar nasional untuk penyelenggaraan sekolah sepak bola, PPLP, dan PPLM sepak bola.

5. Metode pembinaan atlet pelajar/muda agar juga memprihatinkan pendidikan formalnya.

6. Pemerintah menyediakan anggaran dari APBN dan APBD untuk mendukung dan menunjang target dan pencapaian sasaran untuk menuju prestasi.

7. Perlu segera disusun dan dilaksanakan program pembinaan prestasi yang fokus kepada pembentukan tim nasional untuk menjadi juara dalam SEA Games 2011.

Tuesday, November 9, 2010

Salah Kaprah Bahasa Indonesia


Alhamdulillah hari ini saya berkesempatan untuk ramah tamah dengan tamu dari Badan Perencanaan dan Pembangunan Nasional (Bappenas). Lumayan, disediakan pula makan malam; kesempatan saya untuk makan banyak dan memperbaiki gizi. Terus terang konsentrasi saya saat itu ada pada makan malam yang dihidangkan; Kare, Nasi Goreng, Roti India, Mie Goreng, Tumis Paprika, Cake, dan buah-buahan (4 sehat 5 sempurna tanpa susu).

Awalnya saya agak ragu untuk memulai pembicaraan. Suasana mencair ketika seorang ibu datang menghampiri saya.

Ibu Bappenas: Mas, ngambil apa?

Akhyar: Ini Bu, roti India. Makannya sambil dicocol pakai bumbu kare.

Ibu Bappenas: Hahaha, maksud saya ngambil apa di sini? Jurusane ngono loh...

Akhyar: Ooooh. Hehehe, maaf bu. Iya saya ngambil menejemen... (dan percakapan berlanjut)

Harusnya Ibu tadi bertanya, "jurusannya apa?" atau "ngambil jurusan apa?". Atau mungkin saya seharusnya tidak terpaku pada hidangan malam.

Wednesday, July 7, 2010

Formasi Indonesia


Indonesia punya ciri khas yang berbeda dgn bangsa-bangsa lain di dunia. Indonesia memiliki keberagaman suku, bahasa, budaya dan agama.

Sepak bola gaya Samba tidak cocok bagi Indonesia karena di Brasil, mereka hanya menggunakan satu bahasa saja di negara seluas 8 juta kilometer persegi itu. Sedang di Indonesia, kita menggunakan puluhan bahasa. Gaya Samba juga tidak cocok untuk diterapkan dalam permainan sepak bola antar pulau.

Gaya Total Football juga tidak cocok dengan gaya hidup orang Indonesia. Ciri kekeluargaan masyarakat Indonesia bisa menyebabkan konsep Total Football menjadi tidak produktif jika dipaksakan untuk diterapkan.

Gaya grendel Catenaccio ala pemerintahan Fascis lebih tidak cocok bagi bangsa Indonesia yang memiliki toleransi dan tepo seliro dalam kehidupannya.

Gaya permainan Kick & Rush juga tidak cocok, karena mayoritas bangsa Indonesia tidak menyukai orang-orang yang hobinya 'Lempar batu sembunyi tangan'.

Gaya Diesel-nya tim Panzer tidak juga cocok. Postur tubuh orang Indonesia yang relatif kecil, justru akan semakin lama semakin menurun staminanya.

Tim nasional sepak bola Indonesia harus dapat meramu sendiri gaya permainannya dengan memadukan keunggulan dan kearifan lokal budaya kita sendiri.

Barisan Depan:
Barisan penyerang cocok ditempati oleh suku Batak, Bugis dan Papua.

Suku Batak sebagai representasi wilayah Indonesia bagian barat, cocok menempati posisi penyerang tengah. Sifat yang tegas, dengan ungkapan 'Batak Tembak Langsung' akan menjadi momok yang menakutkan setiap penjaga gawang lawan. Tendangan kaki yang keras disertai teriakan yang kencang memekak telinga akan menjadi petaka bagi benteng pertahanan lawan.

Suku Bugis sebagai representasi wilayah Indonesia bagian tengah, cocok mengisi posisi sayap kiri. Kemampuan navigasi yang terkenal hingga seantero dunia, dapat memberikan tekanan berat pada sisi kanan pertahanan lawan sekaligus mengendalikan alur permainan di sisi pertahanan lawan. Umpan-umpan cerdas atas dasar perhitungan navigasi yang akurat dari sisi kiri akan menjadi assist matang kepada penyerang tengah yang siap menerkam setiap umpan.

Suku Papua sebagai representasi wilayah Indonesia bagian timur, cocok mengambil peran di posisi penyerang sayap kanan. Seni tari Papua yang dinamis serta kemampuan jelajah wilayah yang masih sangat perawan menjadi bekal utama dalam mendobrak benteng pertahanan lawan di sebelah kiri. Kemampuan jelajah wilayah akan sangat melelahkan setiap pemain belakang lawan yang mencoba menguntit. Potensi seni dalam mengirim umpan akan membuat gerak bola mengecoh antisipasi para pemain lawan.

Barisan Tengah:
Barisan tengah cocok diisi oleh suku Sunda, Jawa, NTT dan Dayak Kalimantan.

Kekuatan lini tengah menentukan tingkat penguasaan bola selama pertandingan berlangsung. Lini tengah ini memerlukan kemampuan untuk mengendalikan dan menguasai permainan tim lawan dengan metode campuran yang memadukan cara rasional, kejiwaan dan sedikit suasana magis.

Suku Jawa yang piawai mendalangi pentas kehidupan wayang bisa dijadikan sebagai play maker di lapangan tengah.

Suku Sunda yang tenang tetapi menghanyutkan, dapat membuai permainan sehingga pemain lawan menjadi lengah oleh buaian magis gerak gemulai Jaipong dan iringan alunan gending Sunda yang sejuk.

Suku NTT yang memiliki ketegasan akan memberikan efek enggan dan ragu bagi pemain lawan untuk berjibaku berebut bola. Ketegasan suku NTT bukan ketegasan tanpa makna melainkan justru ketegasan yang bernilai kelembutan. Bak melodi yang dikeluarkan oleh Sasando, ketegasan menjadi sangat luwes dan magis yang menghanyutkan permainan lawan.

Suku Dayak Kalimantan, dengan kebiasaan jelajah dan penguasaan wilayah yang luas serta interpretasi seni yang dinamis adalah sebuah kekuatan magis dan dahsyat yang akan menghancurkan hegemoni pemain tengah tim lawan.

Barisan Belakang
Barisan pertahanan cocok diisi oleh suku Ambon Maluku, Manado, Minangkabau dan Betawi.

Suku Ambon Maluku tentu tidak pernah kenal kompromi terhadap semua ancaman terhadap integritas wilayahnya. Karakter pembela pertahanan yang pernah diteladani oleh Kapitan Pattimura & Libero kebanggaan PSSI, Ronny Pattinasarany, tertanam kokoh dan kuat di dalam jiwa setiap pemain suku Ambon Maluku.

Suku Manado memberikan warna lain di barisan pertahanan kita. Kombinasi kecantikan manusia dan kemerduan suara alam menjadikan benteng pertahanan kita boleh dilihat tetapi pantang disentuh oleh setiap pemain lawan.

Suku Minangkabau memiliki kearifan sejarah tentang sebuah pertahanan. Bak gemulai seekor anak kerbau yang mampu mempedaya seekor Banteng besar yang ganas. Gemulai tari piring tidak memcahkan kekuatan para penyerang lawan, tetapi justru melemahkan kekuatan itu.

Suku Betawi memiliki wibawa yang tinggi dalam menjaga wilayah pertahanan Indonesia. Konsep 'Lu jual, gue beli' diperkuat kepretan tari topeng di tengah alunan gambang kromong akan membuat para pemain lawan menyerah sebelum bertanding.

Penjaga Gawang.
Penjaga gawang cocok diberikan kepada suku Bali.

Gerakan trengginas, cakap dan lincah dalam tari kecak akan membuat penyerang lawan kesulitan menemukan celah yang kosong di gawang tim Indonesia.

Adapun kearifan dan keunggulan lokal dari suku-suku lain akan menjadi penambah kekuatan Tim Nasional sepak bola Indonesia.

Thursday, February 4, 2010

Arsenal dan Piala Afrika

Setelah surat saya dimuat pada rubrik suara tifosi no.1782/Selasa, 11 Desember 2007, saya ingin memberi tambahan pada surat tersebut.

Sepakbola bukan matematika. Setelah terus tampil konsisten, kini Arsenal sedang dalam kondisi sulit menyusul cederanya Cesc Fabregas. Rekor tak terkalahkan di priemer league pun gagal diperpanjang. Rival terdekatnya, MU dan Chelsea juga semakin memperkecil jarak dengan klub London tersebut. Selain itu, ada faktor yang semakin mempersulit keadaan. Yakni Piala Afrika. Tidak lama lagi pemain Afrika di klub tersebut akan membela negaranya masing-masing. Dengan ketidakhadiran Kolo Toure di jantung pertahanan, Ebou di sisi sayap, serta Adebayor sebagai tukang gedor, akan sulit bagi Arsenal untuk mengarungi ketatnya priemer league. Kondisi ini bisa dimanfaatkan MU dan Chelsea yang kini terus membuntuti The Gunners. Tactican Arsene Wenger nampaknya harus memutar otak dengan absennya mereka. Namun sekali lagi, sepakbola bukan matematika. Bisa saja wenger memainkan pemain mudanya yang kerap dibangku cadangkan. Menarik untuk kita saksikan, setelah Bacary Sagna, Gael Clichy, dan Bendtner, siapa lagi pemain muda yang akan mengorbit?


Salam hangat untuk Juventini. Forza Juve!

Arsenal dan Kualifikasi Euro 2008

Arsenal semakin menunjukkan kapasitasnya sebagai tim yang sedang panen pemain muda. Meski sempat dikalahkan Sevilla di ajang Liga Champions, rekor tak terkalahkan di priemer league masih terjaga. Salah satu faktor menarik dibalik keberhasilan Arsenal musim ini karena tidak adanya pemain Inggris yang tampil di kualifikasi Euro 2008. Tuntutan untuk menang di sisa pertandingan kualifikasi membuat mental punggawa the three lions drop. Imbasnya, klub-klub besar penyumbang pemain Inggris seperti Chelsea, Liverpool dan Manchester United ikut menderita karena para pemainnya terbawa suasana timnas sehingga mempengaruhi penampilan di lapangan. Apalagi setelah Inggris dipastikan tidak lolos. Kondisi ini bertolak belakang dengan Arsenal yang mayoritas non-Inggris. Ditambah dengan banyaknya pemain non-Eropa khususnya di lini belakang dan depan macam Kolo Toure, Eboue, dan Adebayor. Negara mereka tidak mempunyai agenda apapun di Euro 2008, sehingga konsentrasi mereka hanya terfokus pada klub.

Fenomena menarik Juventus

Saya melihat fenomena menarik terjadi pada Juventus musim ini. Juve menjadi klub yang paling bertanggungjawab atas Calciopoli, dan terdegradasi ke Serie-B. Ini adalah keuntungan bagi rival Juventus di Serie-A maupun Liga-liga Eropa lainnya. Namun juga bisa jadi keuntungan bagi Juventus. Secara umum saya melihat beberapa keuntungan.

1. Meski terdegradasi, Juve munjadi klub terkaya di Italia tahun ini. Ironis mengingat saham Juve turun drastis pada penghujung musim 2005/2006. Ini merupakan bukti bahwa Juve masih belum kehilangan dukungan baik dari berbagai pihak seperti sponsor, maupun suporter.

2. Del Piero kembali menemukan ketajamannya di Serie-B. Ya, beberapa musim yang lalu Alex kehilangan ketajamannya. Tapi, terbukti kini ia menjadi top scorer sementara musim ini.

3. Pemain muda Juve semakin matang. Ini disebabkan karena mereka sering diberikan kesempatan bermain. Ini bermanfaat untuk regenerasi pemain. Karena beberapa musim yang lalu kebanyakan mengandalkan pemain yang sudah matang dan berpengalaman. Sedangkan di Serie-A, para pemain muda Juve belum tentu di beri kepercayaan bermain, bahkan ada yang sama sekali tidak mendapatkan kesempatan.

4. Melengkapi Trofi. Kedengarannya memang aneh, tetapi itulah alasan Gianluigi Buffon bertahan. Serie-A sudah banyak mereka raih. Coppa Italia juga. Liga Champions sudah diraih meski hanya 2 kali. Begitu juga Piala UEFA, dan trofi lainnya. Jika Juventus akan menjadi Juara Serie-B tahun ini, mereka bisa menjadi klub dengan perolehan jenis trofi terbanyak di Italia. Suatu rekor tersendiri bagi Juve.

Dari beberapa pernyataan diatas, bisa dibilang Serie-B ibarat “Penjara Suci” bagi Juventus setelah terlibat skandal Calciopoli. Mereka sedang “bertaubat” dan memperbaiki diri, mereka siap memulai musim depan yang lebih baik. Forza Juve!

Carut-marut Liga Indonesia

Sistem Liga di Tanah Air telah bergulir 13 kali (belum termasuk Perserikatan dan Galatama). Meski sudah berjalan cukup lama, masih ada kekurangan disana-sini. Mulai dari aturan-aturan yang sering berubah setiap tahun, klub yang kurang mandiri dalam mengelola keuangan, wasit yang kerap memicu kontroversi, hingga berujung pada tindakan brutal supporter (khusus untuk masalah ini bukan hanya supporter, pemain dan offisial pun tak jarang melakukan tindakan anarki).

Masih segar di ingatan, beberapa tahun lalu ketika sistem degradasi dihapuskan, dan penghapusan degradasi ini terjadi tidak hanya sekali. Sehingga klub-klub papan bawah terkesan setengah hati dalam bermain. Apapun yang terjadi mereka tetap eksis di Liga saat itu. Akibatnya Liga Indonesia tidak berjalan dengan menarik, karena tidak ada motivasi dalam bermain. Contoh lainnya, pada tahun 2005, Arema Malang dan Persipura Jayapura yang saat itu berhak tampil di Asian Champions League gagal mengikuti turnamen paling bergengsi di Asia tersebut. Bukan karena kekurangan dana, tetapi karena kecerobohan PSSI dalam mendaftarkan tim asal Malang dan Jayapura tersebut. Ya, PSSI telat mendaftarkan kedua klub. Arek-arek Malang dan Mutiara Hitam harus merelakan kesempatan unjuk gigi di ACL. Tidak berlebihan jika dikatakan perjuangan mereka di Liga dan Coppa menjadi sia-sia.

Sejenak, mari kita lupakan borok-borok masa lalu. Bagaimana dengan tahun 2008?

Tidak seperti tahun-tahun sebelumnya tahun ini kompetisi kasta sepakbola tertinggi di Tanah Air berganti nama menjadi Super League. Selain nama, banyak juga hal yang berubah di edisi Liga kali ini, (tentunya bertujuan untuk mengubah format kompetisi menjadi lebih baik dari sebelumnya). Ada 2 keputusan revolusioner yang menarik perhatian saya yakni menyangkut pemain asing dan diadakannya kompetisi U-21.

Tahun ini BLI membatasi kuota pemain asing. Sehingga setiap klub hanya boleh mendaftarkan pemain asingnya maksimal 5 orang di Super League. Dari 5 orang tersebut, hanya 3 orang yang boleh didaftarkan untuk mengikuti Coppa. Keputusan tersebut saya rasa cukup tepat. Jelas, karena pemain pribumi semakin mendapatkan kesempatan untuk bermain. Belum lagi adanya pemberlakuan strata-strata bagi pemain asing yang masuk dari luar Indonesia. Contohnya untuk transfer pemain asing yang berasal dari Amerika Latin seperti Brazil dan Argentina, BLI hanya memperbolehkan 2 strata teratas. Artinya hanya pemain yang berasal dari Divisi 2 keatas yang boleh didaftarkan. Saya setuju dengan pemberlakuan sistem strata ini karena hanya pemain asing yang berkualitas yang bisa masuk ke Indonesia. Sehingga tidak ada lagi klub yang asal-asalan dalam membeli pemain asing. Karena kita tahu, tindakan kurang terpuji di lapangan tidak hanya dilakukan pemain pribumi, justru tak sedikit pemain asing (khususnya yang berasal dari Afrika) yang menampilkan permainan keras menjurus kasar.

Untuk kompetsis U-21 saya sependapat karena jelas akan memberikan pengalaman berkompetisi sejak dini. Meski belum terlalu banyak menarik perhatian, semoga kompetisi ini dapat diteruskan secara terus menerus, sehingga program pembinaan pemain muda dapat terus dikembangkan. Karena masa depan sepakbola Indonesia ada di tangan mereka.

Terlepas dari baik-buruknya sistem Liga di Tanah Air, marilah kita dukung. Kalau bukan kita, siapa lagi yang bisa menghargai sepakbola Indonesia?

Maju terus sepakbola Indonesia!

Pemain Muda Indonesia di Luar Negeri

Irvin Museng:
Dia adalah pesepakbola didikan Makassar Football School (MFS) dan usianya masih 16 tahun saat ini. Saat itu, MFS muncul sebagai juara Danone Cup tingkat nasional tahun 2005. Sebagai juara, MFS menjadi wakil Indonesia di Piala Dunia Danone U-12 di Lyon, Prancis, pada bulan September 2005. Performa Irvin di turnamen ini luar biasa. Berkat kecepatan, naluri mencetak gol, serta keahliannya dalam menggiring bola, Ia menyabet top skorer dengan mencetak 10 gol, dan mengantar MFS meraih gelar The Best Attacker Team. Luar Biasa. Prestasi ini mengundang perhatian luar biasa dari banyak scout, termasuk dari klub Ajax Amsterdam. Posisinya adalah Penyerang.

Radja Nainggolan:
Gelandang serang keturunan Batak-Belgia ini bermain bersama Klub Serie-B Italia, Piacenza. Sejauh ini ia sudah mencetak 1 gol untuk timnya. Menurut saya dia adalah pemain muda berbakat saat ini karena bisa memainkan posisi playmaker dengan baik. Kita tahu, Timnas kita minim kreasi dan variasi dalam penyerangan. Ada nama Firman Utina di posisi tersebut namun kurang bagus staminanya. Radja masih bisa terus mengembangkan bakatnya (apalagi didukung dengan program latihan yang bagus). Sehingga diharapkan mampu mengatasi krisis playmaker Timnas. Sayangnya, peluang Radja untuk memperkuat Timnas sangat kecil. Ia sudah memperkuat Belgia U-21 di ajang Piala Eropa U-21. Apalagi kini banyak klub-klub yang tertarik untuk meminangnya. Memang, dalam peraturan FIFA dikatakan sebelum memperkuat Timnas Senoir suatu negara, sang pemain masih berhak memperkuat Timnas negara lain karena tidak ada keterikatan. Jadi, masih ada peluang Radja Nainggolan untuk memperkuat Indonesia meski sedikit.

Irfan Bachdim:
Sempat memperkuat Ajax Junior, namun perkembangan fisiknya dinilai stagnan, sehingga dikeluarkan dari akademi yang melahirkan bintang seperti, Ryan Babel, Dennis Bergkamp, Marco van Basten, dan Frank Rijkaard ini. Disaat seperti itu FC Utrecht merekrutnya. Ia sempat menjadi Top skorer Utrecht Junior. Prestasi tersebut membuat Irfan hingga kini menjadi bagian di Tim inti Utrecht meski jarang dimainkan. Ia bisa dimainkan sebagai gelandang serang maupun striker. Ia lihai dalam tendangan bebas dan bola-bola mati. Sempat mengikuti latihan Timnas Indonesia U-23 di Belanda namun ia tidak tampil di Qatar. Sebab, ketika PSSI harus memasukkan daftar nama ke Asian Games di awal Oktober 2006, Irfan ditempatkan di posisi ke 21 karena kondisinya waktu itu masih belum pulih sepenuhnya dari cedera enkel. Kita tunggu saja duetnya dengan Boaz Solossa di masa yang akan datang.

Selain 3 nama di atas ada Rizki Novriansyah dan Jajang Mulyana yang menimba ilmu di Boavista (Brazil).

Pemain Timnas yang datang dan pergi

Anda tentu masih ingat formasi Timnas Indonesia di AFF Suzuki Cup kemarin?
Anak-anak Benny Dollo ini memakai formasi 4-4-2 dengan Markus Horison sebagai keeper, M. Roby dan Charis di jantung pertahanan, Ismed dan Isnan Ali bermain di wing-back, Ponaryo gelandang bertahan, Firman Utina sebagai motor serangan, ditopang Arif Suyono di kanan dan M. Ilham di kiri, serta duet BP-Budi Sudarsono di lini depan. Meski ada juga nama Nova Arianto (suster ngesot), Irsyad Aras, Talaohu Abdul Musafri, dan Syamsul Bachri Chaeruddin yang sempat tampil sebagai line-up.

Sedikit mengenang Piala Asia 2007, Ivan Kolev menyusun formasi 4-3-3. Yandri Pitoy dipercaya menjadi penjaga gawang, palang pintunya Charis-Maman, Ricardo Salampessy dan M. Ridwan membantu penyerangan dan pertahanan sebagai bek-sayap, di tengah ada Ponaryo (cidera, digantikan Eka Ramdani di pertandingan terakhir), Firman, dan Mahyadi (sempat cidera dan diganti Syamsul Chaeruddin), trio penyerang Budi-BP-Elie Aiboy dengan BP sebagai penyerang utama (target man).

Ganti pelatih, ganti formasi, ganti pemain. Begitulah gambaran Timnas beberapa tahun terakhir.

Masih ingat nama-nama seperti Ilham Jayakesuma, Boaz, Hamka Hamzah, Zainal Arif, atau Atep? – 2 nama terakhir dipanggil Kolev untuk Piala Asia 2007 namun tidak sempat dimainkan – Kabar kiprah mereka di Timnas sudah jarang terdengar. Padahal mereka belum genap berusia 30 tahun. Dimana mereka saat ini?

Ilham Jayakesuma, top skorer Piala Tiger edisi 2003 ini sekarang bermain di Persisam Samarinda. Tampil memukau di Piala Tiger membuat sejumlah klub Malaysia tertarik. Ilham akhirnya dikontrak oleh Selangor MPPJ setelah 10 tahun membela Persita Tangerang. Tragisnya, bukan prestasi yang ia dapatkan di MPPJ, ia menderita cidera lutut yang berkepanjangan selama semusim, sehingga pada pertengahan kompetisi tahun 2005, ia kembali membela panji Persita. Di klub berjuluk Pendekar Cisadane tersebut penampilannya menurun drastis. Hanya 1 gol yang ia persembahkan di Liga Indonesia 2006/2007. Kabar terakhir menyebutkan ia akan kembali merumput bersama Persita di putaran kedua ISL.

Karir Boaz di sepakbola hampir saja berakhir ketika ia mendapat tackling keras pemain Hongkong pada laga persahabatan menjelang Piala Asia 2007. Cedera itu juga menyebabkan ia harus istirahat selama semusim lebih. Setelah sembuh, ia sempat tampil memukau bersama Persipura dan meramaikan daftar top skorer Liga tahun ini. Pelatih Benny Dollo sempat memanggilnya untuk mengikuti persiapan AFF Suziku Cup. Tetapi Boaz enggan kembali ke Timnas dengan alasan masih trauma atas cideranya. Menjelang semifinal Pialai AFF menghadapi Thailand, Bendol membutuhkan solusi di lini depan. Bersama Ricardo Salampessy, ia sempat berlatih bersama Timnas. Namun Boaz dan Ricardo gagal tampil karena pemanggilan pemain baru hanya diperuntukkan hanya jika ada pemain yang cidera, sedangkan seluruh pungguawa Timnas saat itu fit. Menurus saya, Boaz adalah pemain potensial saat ini. Kita tunggu saja kiprah selanjutnya di Timnas.

Hamka Hamzah, pemain belakang yang sering melakukan penetrasi ini dicoret dari timnas bukan karena penampilannya yang menurun. Hamka dicoret lantaran tindakannya tindakkannya yang kurang profesional. Ia sering mangkir dari latihan Timnas.

Zenal Arif juga sama, namun ia disebabkan karena “kabur” dari hotel tempat Timnas menginap lantaran kesal terhadap Ivan Kolev yang tidak memberikan kesempatan bermain di Piala Asia 2007. Padahal ia termasuk pemain yang serba bisa di lini depan. Bisa bermain sebagai ujung tombak, penyerang lubang, maupun di sayap. Sayang sekali jika ia tak dipanggil karena perbauatan tersebut.

Lain halnya dengan Atep, sinarnya meredup lantaran di klub barunya, Persib Bandung, ia jarang dimainkan. Atep kalah bersaing dengan pemain asing macam Hilthon Moreira dan Lorenzo Cabanas. Ia sempat mencetak 2 gol di Piala Tiger 2006.

Nampaknya, konsistensi permainan, sportivitas dan profesionalitas jauh lebih penting ketimbang sekedar skill maupun teknik.

Hasil Timnas di Piala AFF, kegagalan sistem sepakbola Indonesia

Sungguh tragis nasib Tim Nasional Indonesia di ajang AFF Suzuki Cup 2008. Sempat memberi harapan dengan membantai Myanmar dan Kamboja dengan skor yang cukup telak, namun loyo saat menghadapi Singapura dan Thailand. Pada akhirnya perjuangan tim besutan Beny Dollo ini hanya sampai semifinal. Memang, BTN (Badan Tim Nasional) hanya menargetkan hingga semifinal. Namun apakah target tersebut tidak terlalu rendah? Ingat, Timnas kita termasuk yang ditakuti di Asia Tenggara. Meski belum pernah meraih gelar pada ajang ini, Indonesia sering maju ke babak final. Dan ditambah lagi dengan supporter Tanah Air yang begitu haus akan prestasi, saya pikir sudah saatnya Indonesia menjuarai ajang yang dahulu dikenal sebagai Piala Tiger ini.

Berbagai alasan menjadi kambing hitam atas kegagalan Timnas. Mulai dari kondisi fisik pemain yang tidak memadai, stamina yang mudah habis, hingga krisis mental saat menghadapi tim-tim kuat lainnya seperti Singapura dan Thailand. Ada juga yang menyebutkan kurangnya skill pemain, tidak berfungsinya formasi 4-4-2, hingga kurangnya persiapan. Ya, semua alasan memang masuk akal.

Namun saya menilai kegagalan tersebut adalah buah dari kegagalan sistem sepakbola Indonesia. Secara khusus saya kategorikan menjadi 3 bagian. Yaitu, Sistem Regenerasi, Sistem Liga, dan krisis profesioanlisme dan sportivitas.

Berbagai upaya dilakukan oleh PSSI dan BTN untuk masalah Regenerasi. Masih ingat Timnas U-23 yang berlatih di Belanda? Bagaimana kabar Tony Sucipto, Bobby Satria, Kacung Khoiru Munif, Khomad Suharto, Wahyu Wijiastanto, Gerry Setia Adi, Ahmad Jufrianto, Zulfadeli, Jajang Mulyana dan kawan-kawan? Jangankan di level Timnas, di Liga Indonesia-pun jarang terdengar. Yang menarik Timnas U-23 saat itu dilatih oleh Foppe De Haan, pelatih top yang pernah membawa Belanda Juara Euro U-21. Didukung pelatih berkualitas, fasilitas yang memadai, serta lawan tanding yang bagus, namun program ini tidak membuahkan hasil nyata. Timnas yang saat itu ditargetkan untuk kualifikasi Olympiade Beijing 2008, hancur lebur di kualifikasi (2 kali kalah, 1 kali seri). Mengapa pelatih berkualitas, fasilitas yang memadai, serta lawan tanding yang bagus berbanding terbalik dengan prestasinya di kualifikasi Olympiade Zona Asia? Mungkin kalimat dari Foppe De Haan menjadi jawabannya: “Hasil yang kami capai (Timnas U-21 Belanda) di ajang ini (Euro U-21) bukan semata-mata kami dapatkan begitu saja. Para pemain sudah di persatukan sejak umur 6 tahun, inilah hasil kerja kami selama ini”. Jadi, jelaslah bahwa prestasi tidak datang begitu saja, harus dimulai sejak dini, sulit untuk meraih prestasi dalam waktu singkat.

Program Regenerasi yang paling baru adalah dikirimnya Indonesia U-16 untuk menimba ilmu di Uruguay. Program ini menelan biaya 400 milyar untuk jangka waktu 4 tahun. Biaya tersebut dihabiskan untuk beberapa pemain saja. Bayangkan apa yang bisa dilakukan dengan biaya sebesar itu. Alangkah baiknya biaya tersebut digunakan untuk pembinaan sepakbola di daerah-daerah potensial seperti Papua (Tanpa bermaksud merendahkan daerah lain). Mari kita flashback sejenak ke tahun 2003. Pelatih Indonesia saat itu Peter White, menemukan wonder-kid dari Papua, Boaz Teufilus Erwin Sollosa namanya. Masih muda, cepat, teknik memadai, skill berkualitas. Di klub manakah Boaz bermain saat itu? Anda menjawab Persipura? Bukan. Lebih tepatnya Tim Sepakbola PON Papua. Peter jeli dalam melihat potensi Boaz saat bermain di PON Jatim. Bukan hanya Boaz, tercatat ada beberapa pemain muda yang diorbitkan oleh Peter saat itu. Sebut saja Saktiawan Sinaga, Syamsul Bachri Chaeruddin, Hamka Hamzah, dan Mahyadi Panggabean. Hasilnya, Timnas mampu melaju ke final meski akhirnya dikalahkan Singapura. Kembali ke masalah dana 400 milyar tadi, saya yakin masih ada Boaz-Boaz lainya di luar sana. Menurut saya, yang perlu dilakukan PSSI adalah mendukung program pembinaan sepakbola di daerah-daerah potensial secara berkesinambungan.



Muhammad Mustafainal Akhyar

Salam Pembuka

Assalaamu'alaikum warahmatullah wabarakaatuhu.

Salam jumpa di Blog saya. Blog ini akan saya jadikan tempat untuk share mengenai hobi, isu-isu hangat, berita-berita aktual, maupun fakta-fakta lainnya di masyarakat. Postingan-postingan tersebut juga akan saya jadikan ajang sharing demi memperkaya khazanah pengetahuan saya terhadap semua disiplin ilmu, karena belajar tidak hanya terbatas oleh sekolah dan buku, dan tidak terbatas oleh ruang dan waktu.

Saya akan memulai dengan postingan-postingan lama saya mengenai sepakbola. Beberapa diantaranya pernah dimuat di Tabloid BOLA. Selamat menikmati.

Wassalaamu'alaikum warahmatullah wabarakaatuhu.