Setelah surat saya dimuat pada rubrik suara tifosi no.1782/Selasa, 11 Desember 2007, saya ingin memberi tambahan pada surat tersebut.
Sepakbola bukan matematika. Setelah terus tampil konsisten, kini Arsenal sedang dalam kondisi sulit menyusul cederanya Cesc Fabregas. Rekor tak terkalahkan di priemer league pun gagal diperpanjang. Rival terdekatnya, MU dan Chelsea juga semakin memperkecil jarak dengan klub London tersebut. Selain itu, ada faktor yang semakin mempersulit keadaan. Yakni Piala Afrika. Tidak lama lagi pemain Afrika di klub tersebut akan membela negaranya masing-masing. Dengan ketidakhadiran Kolo Toure di jantung pertahanan, Ebou di sisi sayap, serta Adebayor sebagai tukang gedor, akan sulit bagi Arsenal untuk mengarungi ketatnya priemer league. Kondisi ini bisa dimanfaatkan MU dan Chelsea yang kini terus membuntuti The Gunners. Tactican Arsene Wenger nampaknya harus memutar otak dengan absennya mereka. Namun sekali lagi, sepakbola bukan matematika. Bisa saja wenger memainkan pemain mudanya yang kerap dibangku cadangkan. Menarik untuk kita saksikan, setelah Bacary Sagna, Gael Clichy, dan Bendtner, siapa lagi pemain muda yang akan mengorbit?
Salam hangat untuk Juventini. Forza Juve!
Thursday, February 4, 2010
Arsenal dan Kualifikasi Euro 2008
Arsenal semakin menunjukkan kapasitasnya sebagai tim yang sedang panen pemain muda. Meski sempat dikalahkan Sevilla di ajang Liga Champions, rekor tak terkalahkan di priemer league masih terjaga. Salah satu faktor menarik dibalik keberhasilan Arsenal musim ini karena tidak adanya pemain Inggris yang tampil di kualifikasi Euro 2008. Tuntutan untuk menang di sisa pertandingan kualifikasi membuat mental punggawa the three lions drop. Imbasnya, klub-klub besar penyumbang pemain Inggris seperti Chelsea, Liverpool dan Manchester United ikut menderita karena para pemainnya terbawa suasana timnas sehingga mempengaruhi penampilan di lapangan. Apalagi setelah Inggris dipastikan tidak lolos. Kondisi ini bertolak belakang dengan Arsenal yang mayoritas non-Inggris. Ditambah dengan banyaknya pemain non-Eropa khususnya di lini belakang dan depan macam Kolo Toure, Eboue, dan Adebayor. Negara mereka tidak mempunyai agenda apapun di Euro 2008, sehingga konsentrasi mereka hanya terfokus pada klub.
Fenomena menarik Juventus
Saya melihat fenomena menarik terjadi pada Juventus musim ini. Juve menjadi klub yang paling bertanggungjawab atas Calciopoli, dan terdegradasi ke Serie-B. Ini adalah keuntungan bagi rival Juventus di Serie-A maupun Liga-liga Eropa lainnya. Namun juga bisa jadi keuntungan bagi Juventus. Secara umum saya melihat beberapa keuntungan.
1. Meski terdegradasi, Juve munjadi klub terkaya di Italia tahun ini. Ironis mengingat saham Juve turun drastis pada penghujung musim 2005/2006. Ini merupakan bukti bahwa Juve masih belum kehilangan dukungan baik dari berbagai pihak seperti sponsor, maupun suporter.
2. Del Piero kembali menemukan ketajamannya di Serie-B. Ya, beberapa musim yang lalu Alex kehilangan ketajamannya. Tapi, terbukti kini ia menjadi top scorer sementara musim ini.
3. Pemain muda Juve semakin matang. Ini disebabkan karena mereka sering diberikan kesempatan bermain. Ini bermanfaat untuk regenerasi pemain. Karena beberapa musim yang lalu kebanyakan mengandalkan pemain yang sudah matang dan berpengalaman. Sedangkan di Serie-A, para pemain muda Juve belum tentu di beri kepercayaan bermain, bahkan ada yang sama sekali tidak mendapatkan kesempatan.
4. Melengkapi Trofi. Kedengarannya memang aneh, tetapi itulah alasan Gianluigi Buffon bertahan. Serie-A sudah banyak mereka raih. Coppa Italia juga. Liga Champions sudah diraih meski hanya 2 kali. Begitu juga Piala UEFA, dan trofi lainnya. Jika Juventus akan menjadi Juara Serie-B tahun ini, mereka bisa menjadi klub dengan perolehan jenis trofi terbanyak di Italia. Suatu rekor tersendiri bagi Juve.
Dari beberapa pernyataan diatas, bisa dibilang Serie-B ibarat “Penjara Suci” bagi Juventus setelah terlibat skandal Calciopoli. Mereka sedang “bertaubat” dan memperbaiki diri, mereka siap memulai musim depan yang lebih baik. Forza Juve!
1. Meski terdegradasi, Juve munjadi klub terkaya di Italia tahun ini. Ironis mengingat saham Juve turun drastis pada penghujung musim 2005/2006. Ini merupakan bukti bahwa Juve masih belum kehilangan dukungan baik dari berbagai pihak seperti sponsor, maupun suporter.
2. Del Piero kembali menemukan ketajamannya di Serie-B. Ya, beberapa musim yang lalu Alex kehilangan ketajamannya. Tapi, terbukti kini ia menjadi top scorer sementara musim ini.
3. Pemain muda Juve semakin matang. Ini disebabkan karena mereka sering diberikan kesempatan bermain. Ini bermanfaat untuk regenerasi pemain. Karena beberapa musim yang lalu kebanyakan mengandalkan pemain yang sudah matang dan berpengalaman. Sedangkan di Serie-A, para pemain muda Juve belum tentu di beri kepercayaan bermain, bahkan ada yang sama sekali tidak mendapatkan kesempatan.
4. Melengkapi Trofi. Kedengarannya memang aneh, tetapi itulah alasan Gianluigi Buffon bertahan. Serie-A sudah banyak mereka raih. Coppa Italia juga. Liga Champions sudah diraih meski hanya 2 kali. Begitu juga Piala UEFA, dan trofi lainnya. Jika Juventus akan menjadi Juara Serie-B tahun ini, mereka bisa menjadi klub dengan perolehan jenis trofi terbanyak di Italia. Suatu rekor tersendiri bagi Juve.
Dari beberapa pernyataan diatas, bisa dibilang Serie-B ibarat “Penjara Suci” bagi Juventus setelah terlibat skandal Calciopoli. Mereka sedang “bertaubat” dan memperbaiki diri, mereka siap memulai musim depan yang lebih baik. Forza Juve!
Carut-marut Liga Indonesia
Sistem Liga di Tanah Air telah bergulir 13 kali (belum termasuk Perserikatan dan Galatama). Meski sudah berjalan cukup lama, masih ada kekurangan disana-sini. Mulai dari aturan-aturan yang sering berubah setiap tahun, klub yang kurang mandiri dalam mengelola keuangan, wasit yang kerap memicu kontroversi, hingga berujung pada tindakan brutal supporter (khusus untuk masalah ini bukan hanya supporter, pemain dan offisial pun tak jarang melakukan tindakan anarki).
Masih segar di ingatan, beberapa tahun lalu ketika sistem degradasi dihapuskan, dan penghapusan degradasi ini terjadi tidak hanya sekali. Sehingga klub-klub papan bawah terkesan setengah hati dalam bermain. Apapun yang terjadi mereka tetap eksis di Liga saat itu. Akibatnya Liga Indonesia tidak berjalan dengan menarik, karena tidak ada motivasi dalam bermain. Contoh lainnya, pada tahun 2005, Arema Malang dan Persipura Jayapura yang saat itu berhak tampil di Asian Champions League gagal mengikuti turnamen paling bergengsi di Asia tersebut. Bukan karena kekurangan dana, tetapi karena kecerobohan PSSI dalam mendaftarkan tim asal Malang dan Jayapura tersebut. Ya, PSSI telat mendaftarkan kedua klub. Arek-arek Malang dan Mutiara Hitam harus merelakan kesempatan unjuk gigi di ACL. Tidak berlebihan jika dikatakan perjuangan mereka di Liga dan Coppa menjadi sia-sia.
Sejenak, mari kita lupakan borok-borok masa lalu. Bagaimana dengan tahun 2008?
Tidak seperti tahun-tahun sebelumnya tahun ini kompetisi kasta sepakbola tertinggi di Tanah Air berganti nama menjadi Super League. Selain nama, banyak juga hal yang berubah di edisi Liga kali ini, (tentunya bertujuan untuk mengubah format kompetisi menjadi lebih baik dari sebelumnya). Ada 2 keputusan revolusioner yang menarik perhatian saya yakni menyangkut pemain asing dan diadakannya kompetisi U-21.
Tahun ini BLI membatasi kuota pemain asing. Sehingga setiap klub hanya boleh mendaftarkan pemain asingnya maksimal 5 orang di Super League. Dari 5 orang tersebut, hanya 3 orang yang boleh didaftarkan untuk mengikuti Coppa. Keputusan tersebut saya rasa cukup tepat. Jelas, karena pemain pribumi semakin mendapatkan kesempatan untuk bermain. Belum lagi adanya pemberlakuan strata-strata bagi pemain asing yang masuk dari luar Indonesia. Contohnya untuk transfer pemain asing yang berasal dari Amerika Latin seperti Brazil dan Argentina, BLI hanya memperbolehkan 2 strata teratas. Artinya hanya pemain yang berasal dari Divisi 2 keatas yang boleh didaftarkan. Saya setuju dengan pemberlakuan sistem strata ini karena hanya pemain asing yang berkualitas yang bisa masuk ke Indonesia. Sehingga tidak ada lagi klub yang asal-asalan dalam membeli pemain asing. Karena kita tahu, tindakan kurang terpuji di lapangan tidak hanya dilakukan pemain pribumi, justru tak sedikit pemain asing (khususnya yang berasal dari Afrika) yang menampilkan permainan keras menjurus kasar.
Untuk kompetsis U-21 saya sependapat karena jelas akan memberikan pengalaman berkompetisi sejak dini. Meski belum terlalu banyak menarik perhatian, semoga kompetisi ini dapat diteruskan secara terus menerus, sehingga program pembinaan pemain muda dapat terus dikembangkan. Karena masa depan sepakbola Indonesia ada di tangan mereka.
Terlepas dari baik-buruknya sistem Liga di Tanah Air, marilah kita dukung. Kalau bukan kita, siapa lagi yang bisa menghargai sepakbola Indonesia?
Maju terus sepakbola Indonesia!
Masih segar di ingatan, beberapa tahun lalu ketika sistem degradasi dihapuskan, dan penghapusan degradasi ini terjadi tidak hanya sekali. Sehingga klub-klub papan bawah terkesan setengah hati dalam bermain. Apapun yang terjadi mereka tetap eksis di Liga saat itu. Akibatnya Liga Indonesia tidak berjalan dengan menarik, karena tidak ada motivasi dalam bermain. Contoh lainnya, pada tahun 2005, Arema Malang dan Persipura Jayapura yang saat itu berhak tampil di Asian Champions League gagal mengikuti turnamen paling bergengsi di Asia tersebut. Bukan karena kekurangan dana, tetapi karena kecerobohan PSSI dalam mendaftarkan tim asal Malang dan Jayapura tersebut. Ya, PSSI telat mendaftarkan kedua klub. Arek-arek Malang dan Mutiara Hitam harus merelakan kesempatan unjuk gigi di ACL. Tidak berlebihan jika dikatakan perjuangan mereka di Liga dan Coppa menjadi sia-sia.
Sejenak, mari kita lupakan borok-borok masa lalu. Bagaimana dengan tahun 2008?
Tidak seperti tahun-tahun sebelumnya tahun ini kompetisi kasta sepakbola tertinggi di Tanah Air berganti nama menjadi Super League. Selain nama, banyak juga hal yang berubah di edisi Liga kali ini, (tentunya bertujuan untuk mengubah format kompetisi menjadi lebih baik dari sebelumnya). Ada 2 keputusan revolusioner yang menarik perhatian saya yakni menyangkut pemain asing dan diadakannya kompetisi U-21.
Tahun ini BLI membatasi kuota pemain asing. Sehingga setiap klub hanya boleh mendaftarkan pemain asingnya maksimal 5 orang di Super League. Dari 5 orang tersebut, hanya 3 orang yang boleh didaftarkan untuk mengikuti Coppa. Keputusan tersebut saya rasa cukup tepat. Jelas, karena pemain pribumi semakin mendapatkan kesempatan untuk bermain. Belum lagi adanya pemberlakuan strata-strata bagi pemain asing yang masuk dari luar Indonesia. Contohnya untuk transfer pemain asing yang berasal dari Amerika Latin seperti Brazil dan Argentina, BLI hanya memperbolehkan 2 strata teratas. Artinya hanya pemain yang berasal dari Divisi 2 keatas yang boleh didaftarkan. Saya setuju dengan pemberlakuan sistem strata ini karena hanya pemain asing yang berkualitas yang bisa masuk ke Indonesia. Sehingga tidak ada lagi klub yang asal-asalan dalam membeli pemain asing. Karena kita tahu, tindakan kurang terpuji di lapangan tidak hanya dilakukan pemain pribumi, justru tak sedikit pemain asing (khususnya yang berasal dari Afrika) yang menampilkan permainan keras menjurus kasar.
Untuk kompetsis U-21 saya sependapat karena jelas akan memberikan pengalaman berkompetisi sejak dini. Meski belum terlalu banyak menarik perhatian, semoga kompetisi ini dapat diteruskan secara terus menerus, sehingga program pembinaan pemain muda dapat terus dikembangkan. Karena masa depan sepakbola Indonesia ada di tangan mereka.
Terlepas dari baik-buruknya sistem Liga di Tanah Air, marilah kita dukung. Kalau bukan kita, siapa lagi yang bisa menghargai sepakbola Indonesia?
Maju terus sepakbola Indonesia!
Pemain Muda Indonesia di Luar Negeri
Irvin Museng:
Dia adalah pesepakbola didikan Makassar Football School (MFS) dan usianya masih 16 tahun saat ini. Saat itu, MFS muncul sebagai juara Danone Cup tingkat nasional tahun 2005. Sebagai juara, MFS menjadi wakil Indonesia di Piala Dunia Danone U-12 di Lyon, Prancis, pada bulan September 2005. Performa Irvin di turnamen ini luar biasa. Berkat kecepatan, naluri mencetak gol, serta keahliannya dalam menggiring bola, Ia menyabet top skorer dengan mencetak 10 gol, dan mengantar MFS meraih gelar The Best Attacker Team. Luar Biasa. Prestasi ini mengundang perhatian luar biasa dari banyak scout, termasuk dari klub Ajax Amsterdam. Posisinya adalah Penyerang.
Radja Nainggolan:
Gelandang serang keturunan Batak-Belgia ini bermain bersama Klub Serie-B Italia, Piacenza. Sejauh ini ia sudah mencetak 1 gol untuk timnya. Menurut saya dia adalah pemain muda berbakat saat ini karena bisa memainkan posisi playmaker dengan baik. Kita tahu, Timnas kita minim kreasi dan variasi dalam penyerangan. Ada nama Firman Utina di posisi tersebut namun kurang bagus staminanya. Radja masih bisa terus mengembangkan bakatnya (apalagi didukung dengan program latihan yang bagus). Sehingga diharapkan mampu mengatasi krisis playmaker Timnas. Sayangnya, peluang Radja untuk memperkuat Timnas sangat kecil. Ia sudah memperkuat Belgia U-21 di ajang Piala Eropa U-21. Apalagi kini banyak klub-klub yang tertarik untuk meminangnya. Memang, dalam peraturan FIFA dikatakan sebelum memperkuat Timnas Senoir suatu negara, sang pemain masih berhak memperkuat Timnas negara lain karena tidak ada keterikatan. Jadi, masih ada peluang Radja Nainggolan untuk memperkuat Indonesia meski sedikit.
Irfan Bachdim:
Sempat memperkuat Ajax Junior, namun perkembangan fisiknya dinilai stagnan, sehingga dikeluarkan dari akademi yang melahirkan bintang seperti, Ryan Babel, Dennis Bergkamp, Marco van Basten, dan Frank Rijkaard ini. Disaat seperti itu FC Utrecht merekrutnya. Ia sempat menjadi Top skorer Utrecht Junior. Prestasi tersebut membuat Irfan hingga kini menjadi bagian di Tim inti Utrecht meski jarang dimainkan. Ia bisa dimainkan sebagai gelandang serang maupun striker. Ia lihai dalam tendangan bebas dan bola-bola mati. Sempat mengikuti latihan Timnas Indonesia U-23 di Belanda namun ia tidak tampil di Qatar. Sebab, ketika PSSI harus memasukkan daftar nama ke Asian Games di awal Oktober 2006, Irfan ditempatkan di posisi ke 21 karena kondisinya waktu itu masih belum pulih sepenuhnya dari cedera enkel. Kita tunggu saja duetnya dengan Boaz Solossa di masa yang akan datang.
Selain 3 nama di atas ada Rizki Novriansyah dan Jajang Mulyana yang menimba ilmu di Boavista (Brazil).
Dia adalah pesepakbola didikan Makassar Football School (MFS) dan usianya masih 16 tahun saat ini. Saat itu, MFS muncul sebagai juara Danone Cup tingkat nasional tahun 2005. Sebagai juara, MFS menjadi wakil Indonesia di Piala Dunia Danone U-12 di Lyon, Prancis, pada bulan September 2005. Performa Irvin di turnamen ini luar biasa. Berkat kecepatan, naluri mencetak gol, serta keahliannya dalam menggiring bola, Ia menyabet top skorer dengan mencetak 10 gol, dan mengantar MFS meraih gelar The Best Attacker Team. Luar Biasa. Prestasi ini mengundang perhatian luar biasa dari banyak scout, termasuk dari klub Ajax Amsterdam. Posisinya adalah Penyerang.
Radja Nainggolan:
Gelandang serang keturunan Batak-Belgia ini bermain bersama Klub Serie-B Italia, Piacenza. Sejauh ini ia sudah mencetak 1 gol untuk timnya. Menurut saya dia adalah pemain muda berbakat saat ini karena bisa memainkan posisi playmaker dengan baik. Kita tahu, Timnas kita minim kreasi dan variasi dalam penyerangan. Ada nama Firman Utina di posisi tersebut namun kurang bagus staminanya. Radja masih bisa terus mengembangkan bakatnya (apalagi didukung dengan program latihan yang bagus). Sehingga diharapkan mampu mengatasi krisis playmaker Timnas. Sayangnya, peluang Radja untuk memperkuat Timnas sangat kecil. Ia sudah memperkuat Belgia U-21 di ajang Piala Eropa U-21. Apalagi kini banyak klub-klub yang tertarik untuk meminangnya. Memang, dalam peraturan FIFA dikatakan sebelum memperkuat Timnas Senoir suatu negara, sang pemain masih berhak memperkuat Timnas negara lain karena tidak ada keterikatan. Jadi, masih ada peluang Radja Nainggolan untuk memperkuat Indonesia meski sedikit.
Irfan Bachdim:
Sempat memperkuat Ajax Junior, namun perkembangan fisiknya dinilai stagnan, sehingga dikeluarkan dari akademi yang melahirkan bintang seperti, Ryan Babel, Dennis Bergkamp, Marco van Basten, dan Frank Rijkaard ini. Disaat seperti itu FC Utrecht merekrutnya. Ia sempat menjadi Top skorer Utrecht Junior. Prestasi tersebut membuat Irfan hingga kini menjadi bagian di Tim inti Utrecht meski jarang dimainkan. Ia bisa dimainkan sebagai gelandang serang maupun striker. Ia lihai dalam tendangan bebas dan bola-bola mati. Sempat mengikuti latihan Timnas Indonesia U-23 di Belanda namun ia tidak tampil di Qatar. Sebab, ketika PSSI harus memasukkan daftar nama ke Asian Games di awal Oktober 2006, Irfan ditempatkan di posisi ke 21 karena kondisinya waktu itu masih belum pulih sepenuhnya dari cedera enkel. Kita tunggu saja duetnya dengan Boaz Solossa di masa yang akan datang.
Selain 3 nama di atas ada Rizki Novriansyah dan Jajang Mulyana yang menimba ilmu di Boavista (Brazil).
Pemain Timnas yang datang dan pergi
Anda tentu masih ingat formasi Timnas Indonesia di AFF Suzuki Cup kemarin?
Anak-anak Benny Dollo ini memakai formasi 4-4-2 dengan Markus Horison sebagai keeper, M. Roby dan Charis di jantung pertahanan, Ismed dan Isnan Ali bermain di wing-back, Ponaryo gelandang bertahan, Firman Utina sebagai motor serangan, ditopang Arif Suyono di kanan dan M. Ilham di kiri, serta duet BP-Budi Sudarsono di lini depan. Meski ada juga nama Nova Arianto (suster ngesot), Irsyad Aras, Talaohu Abdul Musafri, dan Syamsul Bachri Chaeruddin yang sempat tampil sebagai line-up.
Sedikit mengenang Piala Asia 2007, Ivan Kolev menyusun formasi 4-3-3. Yandri Pitoy dipercaya menjadi penjaga gawang, palang pintunya Charis-Maman, Ricardo Salampessy dan M. Ridwan membantu penyerangan dan pertahanan sebagai bek-sayap, di tengah ada Ponaryo (cidera, digantikan Eka Ramdani di pertandingan terakhir), Firman, dan Mahyadi (sempat cidera dan diganti Syamsul Chaeruddin), trio penyerang Budi-BP-Elie Aiboy dengan BP sebagai penyerang utama (target man).
Ganti pelatih, ganti formasi, ganti pemain. Begitulah gambaran Timnas beberapa tahun terakhir.
Masih ingat nama-nama seperti Ilham Jayakesuma, Boaz, Hamka Hamzah, Zainal Arif, atau Atep? – 2 nama terakhir dipanggil Kolev untuk Piala Asia 2007 namun tidak sempat dimainkan – Kabar kiprah mereka di Timnas sudah jarang terdengar. Padahal mereka belum genap berusia 30 tahun. Dimana mereka saat ini?
Ilham Jayakesuma, top skorer Piala Tiger edisi 2003 ini sekarang bermain di Persisam Samarinda. Tampil memukau di Piala Tiger membuat sejumlah klub Malaysia tertarik. Ilham akhirnya dikontrak oleh Selangor MPPJ setelah 10 tahun membela Persita Tangerang. Tragisnya, bukan prestasi yang ia dapatkan di MPPJ, ia menderita cidera lutut yang berkepanjangan selama semusim, sehingga pada pertengahan kompetisi tahun 2005, ia kembali membela panji Persita. Di klub berjuluk Pendekar Cisadane tersebut penampilannya menurun drastis. Hanya 1 gol yang ia persembahkan di Liga Indonesia 2006/2007. Kabar terakhir menyebutkan ia akan kembali merumput bersama Persita di putaran kedua ISL.
Karir Boaz di sepakbola hampir saja berakhir ketika ia mendapat tackling keras pemain Hongkong pada laga persahabatan menjelang Piala Asia 2007. Cedera itu juga menyebabkan ia harus istirahat selama semusim lebih. Setelah sembuh, ia sempat tampil memukau bersama Persipura dan meramaikan daftar top skorer Liga tahun ini. Pelatih Benny Dollo sempat memanggilnya untuk mengikuti persiapan AFF Suziku Cup. Tetapi Boaz enggan kembali ke Timnas dengan alasan masih trauma atas cideranya. Menjelang semifinal Pialai AFF menghadapi Thailand, Bendol membutuhkan solusi di lini depan. Bersama Ricardo Salampessy, ia sempat berlatih bersama Timnas. Namun Boaz dan Ricardo gagal tampil karena pemanggilan pemain baru hanya diperuntukkan hanya jika ada pemain yang cidera, sedangkan seluruh pungguawa Timnas saat itu fit. Menurus saya, Boaz adalah pemain potensial saat ini. Kita tunggu saja kiprah selanjutnya di Timnas.
Hamka Hamzah, pemain belakang yang sering melakukan penetrasi ini dicoret dari timnas bukan karena penampilannya yang menurun. Hamka dicoret lantaran tindakannya tindakkannya yang kurang profesional. Ia sering mangkir dari latihan Timnas.
Zenal Arif juga sama, namun ia disebabkan karena “kabur” dari hotel tempat Timnas menginap lantaran kesal terhadap Ivan Kolev yang tidak memberikan kesempatan bermain di Piala Asia 2007. Padahal ia termasuk pemain yang serba bisa di lini depan. Bisa bermain sebagai ujung tombak, penyerang lubang, maupun di sayap. Sayang sekali jika ia tak dipanggil karena perbauatan tersebut.
Lain halnya dengan Atep, sinarnya meredup lantaran di klub barunya, Persib Bandung, ia jarang dimainkan. Atep kalah bersaing dengan pemain asing macam Hilthon Moreira dan Lorenzo Cabanas. Ia sempat mencetak 2 gol di Piala Tiger 2006.
Nampaknya, konsistensi permainan, sportivitas dan profesionalitas jauh lebih penting ketimbang sekedar skill maupun teknik.
Anak-anak Benny Dollo ini memakai formasi 4-4-2 dengan Markus Horison sebagai keeper, M. Roby dan Charis di jantung pertahanan, Ismed dan Isnan Ali bermain di wing-back, Ponaryo gelandang bertahan, Firman Utina sebagai motor serangan, ditopang Arif Suyono di kanan dan M. Ilham di kiri, serta duet BP-Budi Sudarsono di lini depan. Meski ada juga nama Nova Arianto (suster ngesot), Irsyad Aras, Talaohu Abdul Musafri, dan Syamsul Bachri Chaeruddin yang sempat tampil sebagai line-up.
Sedikit mengenang Piala Asia 2007, Ivan Kolev menyusun formasi 4-3-3. Yandri Pitoy dipercaya menjadi penjaga gawang, palang pintunya Charis-Maman, Ricardo Salampessy dan M. Ridwan membantu penyerangan dan pertahanan sebagai bek-sayap, di tengah ada Ponaryo (cidera, digantikan Eka Ramdani di pertandingan terakhir), Firman, dan Mahyadi (sempat cidera dan diganti Syamsul Chaeruddin), trio penyerang Budi-BP-Elie Aiboy dengan BP sebagai penyerang utama (target man).
Ganti pelatih, ganti formasi, ganti pemain. Begitulah gambaran Timnas beberapa tahun terakhir.
Masih ingat nama-nama seperti Ilham Jayakesuma, Boaz, Hamka Hamzah, Zainal Arif, atau Atep? – 2 nama terakhir dipanggil Kolev untuk Piala Asia 2007 namun tidak sempat dimainkan – Kabar kiprah mereka di Timnas sudah jarang terdengar. Padahal mereka belum genap berusia 30 tahun. Dimana mereka saat ini?
Ilham Jayakesuma, top skorer Piala Tiger edisi 2003 ini sekarang bermain di Persisam Samarinda. Tampil memukau di Piala Tiger membuat sejumlah klub Malaysia tertarik. Ilham akhirnya dikontrak oleh Selangor MPPJ setelah 10 tahun membela Persita Tangerang. Tragisnya, bukan prestasi yang ia dapatkan di MPPJ, ia menderita cidera lutut yang berkepanjangan selama semusim, sehingga pada pertengahan kompetisi tahun 2005, ia kembali membela panji Persita. Di klub berjuluk Pendekar Cisadane tersebut penampilannya menurun drastis. Hanya 1 gol yang ia persembahkan di Liga Indonesia 2006/2007. Kabar terakhir menyebutkan ia akan kembali merumput bersama Persita di putaran kedua ISL.
Karir Boaz di sepakbola hampir saja berakhir ketika ia mendapat tackling keras pemain Hongkong pada laga persahabatan menjelang Piala Asia 2007. Cedera itu juga menyebabkan ia harus istirahat selama semusim lebih. Setelah sembuh, ia sempat tampil memukau bersama Persipura dan meramaikan daftar top skorer Liga tahun ini. Pelatih Benny Dollo sempat memanggilnya untuk mengikuti persiapan AFF Suziku Cup. Tetapi Boaz enggan kembali ke Timnas dengan alasan masih trauma atas cideranya. Menjelang semifinal Pialai AFF menghadapi Thailand, Bendol membutuhkan solusi di lini depan. Bersama Ricardo Salampessy, ia sempat berlatih bersama Timnas. Namun Boaz dan Ricardo gagal tampil karena pemanggilan pemain baru hanya diperuntukkan hanya jika ada pemain yang cidera, sedangkan seluruh pungguawa Timnas saat itu fit. Menurus saya, Boaz adalah pemain potensial saat ini. Kita tunggu saja kiprah selanjutnya di Timnas.
Hamka Hamzah, pemain belakang yang sering melakukan penetrasi ini dicoret dari timnas bukan karena penampilannya yang menurun. Hamka dicoret lantaran tindakannya tindakkannya yang kurang profesional. Ia sering mangkir dari latihan Timnas.
Zenal Arif juga sama, namun ia disebabkan karena “kabur” dari hotel tempat Timnas menginap lantaran kesal terhadap Ivan Kolev yang tidak memberikan kesempatan bermain di Piala Asia 2007. Padahal ia termasuk pemain yang serba bisa di lini depan. Bisa bermain sebagai ujung tombak, penyerang lubang, maupun di sayap. Sayang sekali jika ia tak dipanggil karena perbauatan tersebut.
Lain halnya dengan Atep, sinarnya meredup lantaran di klub barunya, Persib Bandung, ia jarang dimainkan. Atep kalah bersaing dengan pemain asing macam Hilthon Moreira dan Lorenzo Cabanas. Ia sempat mencetak 2 gol di Piala Tiger 2006.
Nampaknya, konsistensi permainan, sportivitas dan profesionalitas jauh lebih penting ketimbang sekedar skill maupun teknik.
Hasil Timnas di Piala AFF, kegagalan sistem sepakbola Indonesia
Sungguh tragis nasib Tim Nasional Indonesia di ajang AFF Suzuki Cup 2008. Sempat memberi harapan dengan membantai Myanmar dan Kamboja dengan skor yang cukup telak, namun loyo saat menghadapi Singapura dan Thailand. Pada akhirnya perjuangan tim besutan Beny Dollo ini hanya sampai semifinal. Memang, BTN (Badan Tim Nasional) hanya menargetkan hingga semifinal. Namun apakah target tersebut tidak terlalu rendah? Ingat, Timnas kita termasuk yang ditakuti di Asia Tenggara. Meski belum pernah meraih gelar pada ajang ini, Indonesia sering maju ke babak final. Dan ditambah lagi dengan supporter Tanah Air yang begitu haus akan prestasi, saya pikir sudah saatnya Indonesia menjuarai ajang yang dahulu dikenal sebagai Piala Tiger ini.
Berbagai alasan menjadi kambing hitam atas kegagalan Timnas. Mulai dari kondisi fisik pemain yang tidak memadai, stamina yang mudah habis, hingga krisis mental saat menghadapi tim-tim kuat lainnya seperti Singapura dan Thailand. Ada juga yang menyebutkan kurangnya skill pemain, tidak berfungsinya formasi 4-4-2, hingga kurangnya persiapan. Ya, semua alasan memang masuk akal.
Namun saya menilai kegagalan tersebut adalah buah dari kegagalan sistem sepakbola Indonesia. Secara khusus saya kategorikan menjadi 3 bagian. Yaitu, Sistem Regenerasi, Sistem Liga, dan krisis profesioanlisme dan sportivitas.
Berbagai upaya dilakukan oleh PSSI dan BTN untuk masalah Regenerasi. Masih ingat Timnas U-23 yang berlatih di Belanda? Bagaimana kabar Tony Sucipto, Bobby Satria, Kacung Khoiru Munif, Khomad Suharto, Wahyu Wijiastanto, Gerry Setia Adi, Ahmad Jufrianto, Zulfadeli, Jajang Mulyana dan kawan-kawan? Jangankan di level Timnas, di Liga Indonesia-pun jarang terdengar. Yang menarik Timnas U-23 saat itu dilatih oleh Foppe De Haan, pelatih top yang pernah membawa Belanda Juara Euro U-21. Didukung pelatih berkualitas, fasilitas yang memadai, serta lawan tanding yang bagus, namun program ini tidak membuahkan hasil nyata. Timnas yang saat itu ditargetkan untuk kualifikasi Olympiade Beijing 2008, hancur lebur di kualifikasi (2 kali kalah, 1 kali seri). Mengapa pelatih berkualitas, fasilitas yang memadai, serta lawan tanding yang bagus berbanding terbalik dengan prestasinya di kualifikasi Olympiade Zona Asia? Mungkin kalimat dari Foppe De Haan menjadi jawabannya: “Hasil yang kami capai (Timnas U-21 Belanda) di ajang ini (Euro U-21) bukan semata-mata kami dapatkan begitu saja. Para pemain sudah di persatukan sejak umur 6 tahun, inilah hasil kerja kami selama ini”. Jadi, jelaslah bahwa prestasi tidak datang begitu saja, harus dimulai sejak dini, sulit untuk meraih prestasi dalam waktu singkat.
Program Regenerasi yang paling baru adalah dikirimnya Indonesia U-16 untuk menimba ilmu di Uruguay. Program ini menelan biaya 400 milyar untuk jangka waktu 4 tahun. Biaya tersebut dihabiskan untuk beberapa pemain saja. Bayangkan apa yang bisa dilakukan dengan biaya sebesar itu. Alangkah baiknya biaya tersebut digunakan untuk pembinaan sepakbola di daerah-daerah potensial seperti Papua (Tanpa bermaksud merendahkan daerah lain). Mari kita flashback sejenak ke tahun 2003. Pelatih Indonesia saat itu Peter White, menemukan wonder-kid dari Papua, Boaz Teufilus Erwin Sollosa namanya. Masih muda, cepat, teknik memadai, skill berkualitas. Di klub manakah Boaz bermain saat itu? Anda menjawab Persipura? Bukan. Lebih tepatnya Tim Sepakbola PON Papua. Peter jeli dalam melihat potensi Boaz saat bermain di PON Jatim. Bukan hanya Boaz, tercatat ada beberapa pemain muda yang diorbitkan oleh Peter saat itu. Sebut saja Saktiawan Sinaga, Syamsul Bachri Chaeruddin, Hamka Hamzah, dan Mahyadi Panggabean. Hasilnya, Timnas mampu melaju ke final meski akhirnya dikalahkan Singapura. Kembali ke masalah dana 400 milyar tadi, saya yakin masih ada Boaz-Boaz lainya di luar sana. Menurut saya, yang perlu dilakukan PSSI adalah mendukung program pembinaan sepakbola di daerah-daerah potensial secara berkesinambungan.
Muhammad Mustafainal Akhyar
Berbagai alasan menjadi kambing hitam atas kegagalan Timnas. Mulai dari kondisi fisik pemain yang tidak memadai, stamina yang mudah habis, hingga krisis mental saat menghadapi tim-tim kuat lainnya seperti Singapura dan Thailand. Ada juga yang menyebutkan kurangnya skill pemain, tidak berfungsinya formasi 4-4-2, hingga kurangnya persiapan. Ya, semua alasan memang masuk akal.
Namun saya menilai kegagalan tersebut adalah buah dari kegagalan sistem sepakbola Indonesia. Secara khusus saya kategorikan menjadi 3 bagian. Yaitu, Sistem Regenerasi, Sistem Liga, dan krisis profesioanlisme dan sportivitas.
Berbagai upaya dilakukan oleh PSSI dan BTN untuk masalah Regenerasi. Masih ingat Timnas U-23 yang berlatih di Belanda? Bagaimana kabar Tony Sucipto, Bobby Satria, Kacung Khoiru Munif, Khomad Suharto, Wahyu Wijiastanto, Gerry Setia Adi, Ahmad Jufrianto, Zulfadeli, Jajang Mulyana dan kawan-kawan? Jangankan di level Timnas, di Liga Indonesia-pun jarang terdengar. Yang menarik Timnas U-23 saat itu dilatih oleh Foppe De Haan, pelatih top yang pernah membawa Belanda Juara Euro U-21. Didukung pelatih berkualitas, fasilitas yang memadai, serta lawan tanding yang bagus, namun program ini tidak membuahkan hasil nyata. Timnas yang saat itu ditargetkan untuk kualifikasi Olympiade Beijing 2008, hancur lebur di kualifikasi (2 kali kalah, 1 kali seri). Mengapa pelatih berkualitas, fasilitas yang memadai, serta lawan tanding yang bagus berbanding terbalik dengan prestasinya di kualifikasi Olympiade Zona Asia? Mungkin kalimat dari Foppe De Haan menjadi jawabannya: “Hasil yang kami capai (Timnas U-21 Belanda) di ajang ini (Euro U-21) bukan semata-mata kami dapatkan begitu saja. Para pemain sudah di persatukan sejak umur 6 tahun, inilah hasil kerja kami selama ini”. Jadi, jelaslah bahwa prestasi tidak datang begitu saja, harus dimulai sejak dini, sulit untuk meraih prestasi dalam waktu singkat.
Program Regenerasi yang paling baru adalah dikirimnya Indonesia U-16 untuk menimba ilmu di Uruguay. Program ini menelan biaya 400 milyar untuk jangka waktu 4 tahun. Biaya tersebut dihabiskan untuk beberapa pemain saja. Bayangkan apa yang bisa dilakukan dengan biaya sebesar itu. Alangkah baiknya biaya tersebut digunakan untuk pembinaan sepakbola di daerah-daerah potensial seperti Papua (Tanpa bermaksud merendahkan daerah lain). Mari kita flashback sejenak ke tahun 2003. Pelatih Indonesia saat itu Peter White, menemukan wonder-kid dari Papua, Boaz Teufilus Erwin Sollosa namanya. Masih muda, cepat, teknik memadai, skill berkualitas. Di klub manakah Boaz bermain saat itu? Anda menjawab Persipura? Bukan. Lebih tepatnya Tim Sepakbola PON Papua. Peter jeli dalam melihat potensi Boaz saat bermain di PON Jatim. Bukan hanya Boaz, tercatat ada beberapa pemain muda yang diorbitkan oleh Peter saat itu. Sebut saja Saktiawan Sinaga, Syamsul Bachri Chaeruddin, Hamka Hamzah, dan Mahyadi Panggabean. Hasilnya, Timnas mampu melaju ke final meski akhirnya dikalahkan Singapura. Kembali ke masalah dana 400 milyar tadi, saya yakin masih ada Boaz-Boaz lainya di luar sana. Menurut saya, yang perlu dilakukan PSSI adalah mendukung program pembinaan sepakbola di daerah-daerah potensial secara berkesinambungan.
Muhammad Mustafainal Akhyar
Salam Pembuka
Assalaamu'alaikum warahmatullah wabarakaatuhu.
Salam jumpa di Blog saya. Blog ini akan saya jadikan tempat untuk share mengenai hobi, isu-isu hangat, berita-berita aktual, maupun fakta-fakta lainnya di masyarakat. Postingan-postingan tersebut juga akan saya jadikan ajang sharing demi memperkaya khazanah pengetahuan saya terhadap semua disiplin ilmu, karena belajar tidak hanya terbatas oleh sekolah dan buku, dan tidak terbatas oleh ruang dan waktu.
Saya akan memulai dengan postingan-postingan lama saya mengenai sepakbola. Beberapa diantaranya pernah dimuat di Tabloid BOLA. Selamat menikmati.
Wassalaamu'alaikum warahmatullah wabarakaatuhu.
Salam jumpa di Blog saya. Blog ini akan saya jadikan tempat untuk share mengenai hobi, isu-isu hangat, berita-berita aktual, maupun fakta-fakta lainnya di masyarakat. Postingan-postingan tersebut juga akan saya jadikan ajang sharing demi memperkaya khazanah pengetahuan saya terhadap semua disiplin ilmu, karena belajar tidak hanya terbatas oleh sekolah dan buku, dan tidak terbatas oleh ruang dan waktu.
Saya akan memulai dengan postingan-postingan lama saya mengenai sepakbola. Beberapa diantaranya pernah dimuat di Tabloid BOLA. Selamat menikmati.
Wassalaamu'alaikum warahmatullah wabarakaatuhu.
Subscribe to:
Posts (Atom)

